Jangan Remehkan Kepanikan

Kemarin, saya sangat bersemangat untuk bangun sangat pagi ketika weekend. Sebab, saya akan ke Jakarta menemui teman saya utuk menonton penyalaan lampu pohon natal raksasa dan pertunjukan fireworks di Central Park, Jakarta Barat.

Biasanya, hari Sabtu begini saya bangun lebih siang sepeeti biasa. Namun, kali ini saya harus bergegas karena saya menebeng teman yang juga akan ke Jakarta. Rumah teman saya berjarak 30 menit dari rumah saya. Usai bersiap-siap, saya panasi motor dan bersiap diri. Diiringi lagu Gending Sriwijaya lewat earphone ponsel, saya arungi perjalanan menuju rumah teman saya tersebut.

Sesampainya di rumahnya, saya tiba-tiba teringat dompet saya. Dan, yah, sudah diduga, dompet saya tertinggal di rumah. Alhasil, saya pergi ke Jakarta tanpa dompet dan tanpa uang, KTP, SIM, ATM, dan semua hal penting yang ‘seharusnya’ saya bawa.

Kepanikan pun menyelimuti saya. Namun, saya berusaha tenang mencari solusi. Sambil menunggu teman saya selesai mandi, saya memutar otak. Akhirnya, saya mendapat solusi, saya meminta tolong ayah saya mentransfer sejumlah uang ke rekening teman saya tersebut. Puji Tuhan, ayah saya masih mau menolong saya. Akhirnya, saya berangkat ke Jakarta dengan sejumlah uang yang ayah saya transfer.

Sesampainya di Jakarta, bertemu dengan teman saya, seperti biasa mengecek HP, siapa tahu ada yang penting untuk segera dibalas. Sewaktu melihat HP, saya menatap aplikasi m-banking di HP. Kemudian, saya merasakan suatu perasaan ‘bodoh’. Mengapa tidak saya transfer saja lewat m-banking saya ke rekening kawan saya tersebut? Ahahaha… Sungguh, ini kepanikan dan kebodohan yang lambat.

Di balik itu semua, setelah menyaksikan keindahan penyalaan pohon natal raksasa dan pertunjukan kembang api (tak lupa saya memanjatkan harapan-harapan), hati saya gembira. Sebab, saya merasakan ada harapan-harapan baru yang segera akan Semesta dukung untuk masa depan saya. Mestakung.

 

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Life is Choice

Terkadang, membuat suatu keputusan membutuhkan pemikiran mendalam agar tak menyesal nantinya. Entah peristiwa apa yang akan terjadi setelahnya, kita tak pernah tahu. Mungkin akan terjadi penyesalan, sakit hati, prasangka buruk terhadap masa depan, bahkan kurangnya rasa percaya pada diri sendiri.

Membuat sebuah keputusan bukanlah hal yang mudah. Seringkali kita membutuhkan prasangka A, B,, dan lain sebagainya. Seringkali pula, pertimbangan-pertimbangan yang mungkin dapat menjadi alasan terjadinya sebuah keputusan, justru membuat kita semakin terpuruk dan seolah tak memiliki jawaban apapun atas kebimbangan kita.

Berdamai dengan diri sendiri. Ya, berdamai dengan diri sendiri akan membuat kita memiliki keberanian-keberanian menatap segala risiko dari semua pilihan yang telah dipilih. Takut? Wajar. Semua orang mengalami rasa takut ketika diperhadapkan kepada pilihan-pilihan, bahkan akan terlintas pemikiran untuk lebih baik tidak memilih dari keduanya. Hati kita pasti akan menginginkan sesuatu yang netral. Namun, kenyataan selalu membenturkannya. Mengapa? Sebab, kenyataan membutuhkan kepastian pilihan.

Haaaaahh, sulit sekali ketika
Continue reading

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Ksatria Cahaya by Paulo Coelho

Saya sedang suntuk dengan buku bacaan karangan Paulo Coelho lagi yang berjudul Ksatria Cahaya. Buku ini menjadi semacam petunjuk hidup mengenai bagaimana bisa menjalani kehidupan ini dengan lebih berani, seperti seorang ksatria. Humm, penulis yang satu ini memang sangat saya kagumi. Betapa tidak, tulisannya seolah mampu menghipnotis pembacanya. Setiap kata seolah memiliki “sihir”. Tergantung dari sudut pandang mana pembaca menilainya, positif atau negatif.

Kali ini saya tidak mau mengomentari terlalu banyak. Sebab, tulisan Paulo Coelho di buku ini cukup mudah untuk dipahami. Semacam sebuah ulasan saja. Berikut saya kutip dari halaman 117.

SAAT seseorang menginginkan sesuatu, seluruh semesta bekerja sama untuk mewujudkannya. Ksatria cahaya tahu akan hal ini.
Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Ada Cinta dalam Sebuah Perbedaan

Masuk di usia empat tahun saya mengajar, dengan perjalanannya yang bgitu fluktuatif, nyatanya justru membuat saya semakin mencintai profesi ini. Jadi agak geli sendiri ketika mengenang segala pemberontakan saya untuk menolak menjadi seorang guru.

Kini saya menjadi wali sebuah kelas. Terkadang, ada muncul perasaan tidak percaya diri. Sebab, saya belum menikah dan belum memiliki anak. Apabila saya bertemu dengan orang tua murid dan ingin memberikan masukan-masukan mengenai anaknya, terkadang ragu. Saya ragu, takut saya salah bicara.

Namun, para rekan kerja dan kepala sekolah senantiasa memberi penguatan dan saran beserta tips and trik bertemu dengan orang tua murid. Continue reading

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Hidup itu Belajar

Yap. Dunia saya agaknya berubah sedikit setelah saya (akhirnya) dapat memiliki tipe gadget yang diimpikan selama ini. Mengapa saya menginginkannya? Sebab, saya ingin bisa menulis di mana saja dan kapan saja. Meskipun, saya rasakan ada situasi ‘asik dehgan dunianya sendiri’. Namun, hal tersebut tentulah takkan bisa mengusik saya. Sebab, ini sudah jadi impian saya sedari dulu.

Baiklah. Itu tadi hanya sebagian perjalanan kisah selama saya hidip jauh dari pusat perkotaan. Uniknya, kini saya sudah bisa melakukam pekerjaan perempuan dengan lebih baik lagi. Tentunya hal ini tidak terlepas dari dukungan orang lain.

Berawal dari kepindahan saya yang awalnya kos, kini kontrak rumah tipe 21/72, sendiri tanpa teman, mendorong saya untuk mengelola dengan baik keuangan pribadi. Dengan kata lain, saya belajar mengelola rumah, kebutuhan pangan, sandang, dan papan.

Serunya, kini saya tidak lagi pergi ke binatu untuk mencucikam baju-baju kotor saya. Semangat untuk mencuci sendiri saya mulai dari Jumat pulang kerja sampai Sabtu siang. Tepatnya saya mencuci baju saya dengan 3 tahap. Pakaian dalam di hari jumat pulang kerja, baju-baju kerja di Sabtu pagi, dan celana-celana panjang atau pendek di Sabtu siangnya. Hal tersebut dikarenakan tempat menjemur yang minimalis dan ember yang minimalis pula. Continue reading

Posted in creative think | 2 Comments

Enigma Welas Asih

Orang-orang berjalan di depan saya dengan berbagai mimik wajah mereka. Sama halnya dengan sepasang merpati yang sedang duduk bertengger di halte bus. Tak ada percakapan sedikit pun di antara mereka, hanya mimik wajah mereka seolah menggambarkan betapa saling mencintainya mereka. Namun, tak disangka seekor burung dara meraih sayap sang merpati jantan dan si betina sendiri sekarang. Betapa menyedihkannya saya melihat kejadian tersebut.

Bus yang saya tunggu akhirnya datang juga. Saya naik dan duduk dalam bus yang mengeluarkan uap panas, sehingga membuat pakaian saya yang setengah basah menjadi basah seluruhnya. Saya duduk bersebelahan dengan seorang laki-laki. Tampilannya sungguh tak sedap dipandang dan tak harum dicium. Entah sudah berapa hari atau mungkin berapa minggu laki-laki itu tidak mandi. Pakaiannya pun lusuh dan rambutnya kotor penuh dengan butiran salju (padahal seingat saya di kota ini tidak ada salju). Namun saya yakin, dia adalah seorang mahasiswa karena buku yang sedang dibacanya adalah buku kurikulum akademik.

Laki-laki itu tampaknya menyadari kalau saya sedang memperhatikannya secara diam-diam. Tanpa ragu, laki-laki itu menoleh pada saya dan berkata, “Siapa namamu?.” Saya sangat terkejut. Tanpa basa-basi dia langsung menanyakan nama pada saya. Saya pun salah tingkah. Namun saya tak menjawab pertanyaannya. Continue reading

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Feel the Future

“Perbuatan mengikuti jalan Tuhan adalah ziarah permenungan akan kehadiran Allah dan pemanfaatan pemberian Tuhan dalam hidup.”

Pada suatu malam sepulang bekerja, saya berteriak dalam doa, “Tuhan, saya tidak ingin menjadi pengajar! Sejak awal saya tidak ingin menjadi pengajar. Cukup rasanya saya menjadi pengajar selama dua tahun.” Setelah itu, saya membuat surat pengunduran diri dan membulatkan tekad untuk mengakhiri masa kontrak saya sebagai pengajar. Waktu itu adalah tiga bulan sebelum masa kontrak saya berakhir.

Banyak kawan menentang, banyak pihak menyayangkan, bahkan orang-orang seperti penjual pulsa, tempat fotokopi langganan pun mengatakan tidak habis pikir akan keputusan saya. Semuanya itu tidak bisa menarik kembali apa yang telah saya putuskan. Keputusan telah bulat. Hanya beberapa saja, satu orang saja yang sangat senang saya mengakhiri masa kontrak saya. Katanya, saya bakal lebih sukses kalau tidak menjadi seorang pengajar. Yah, who knows? Continue reading

Posted in Uncategorized | 8 Comments