Tercipta Oleh Waktu

Menemukannya (dia; red) untuk menuju selamanya. Terima kasih kepada Tuhan yang telah mempertemukan kami dengan caraNya yang tak pernah saya duga sama sekali. Tuhan menaruh kepercayaan kepada saya untuk dia sejak kami akan bertemu untuk pertama kalinya. Siapa sangka yang sebelumnya kami belum pernah sama sekali bertemu, akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan cara berpetualang bersama ke salah satu gunung di Jonggol?
Continue reading

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

YOU Are My Hiding Place

You are my hiding place, You always fill my heart with songs of deliverance, whenever I am afraid, I will trust in You, let the weak say I am strong, in the strength of the Lord, I will trust in You

Setiap kita mengetahui bahwa musuh terbesar adalah diri kita sendiri. Terkadang, kita takut menghadapi ketakutan kita sendiri. Ketika ketakutan yang takut untuk dihadapi terus menghantui, akhirnya segenap jiwa, hati, dan logika mendadak melemah sehingga muncullah suatu kondisi yang disebut kebingungan.

Sampai di usia saat ini (bahkan beberapa hari akan bertambah lagi usia ini), jika diingat-ingat kembali, bulu kuduk ini rasanya selalu berdiri. Saya telah berada di dalam sebuah misteri skenario Ilahi.

Betapa tidak. Saya yang dijuluki kawan saya sebagai ‘kutu loncat’ karena seringnya saya berpindah-pindah domisili, saat ini saya yakini betul bahwa inilah skenario hidup saya.

Memang, pengalaman hidup yang sebenarnya ada di dunia kerja. Mental kita diuji, dibanting, diangkat, dibanting lagi, diangkat lagi, begitu seterusnya.

Tidak ada yang menyangka (bahkan saya sendiri juga tidak) saya akan berpindah tempat lagi dan mungkin ini tempat terakhir yang Tuhan izinkan untuk saya berakar, bertumbuh, dan berdampak dalam kemuliaanNya.

Lagu tadi mengingatkan saya betapa perjalanan hidup ini dilumuri begitu macam dosa. Namun, dengan kasihNya, Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkan saya.

Diawalk dari pemberontakan saya yang keukeuh ingin bekerja di dunia jurnalistik hingga kemudian saya terpanggil menjadi seorang guru dan pasrah terhadap kemauan Tuhan mau bentuk saya seperti apa. Semua ini belum selesai, masih ada begitu banyak misteri Ilahi di masa depan menanti.

Ini semacam naik level. Saya membayangkan akan begitu banyak tantangan yang dapat melemahkan saya. Namun, lagu tadi menguatkan saya untuk berkata: let the weak say I am strong in the strength of the Lord.

Sungguh nikmat mengikuti jalan Tuhan. Penuh tantangan tetapi buahnya ranum dan manis. Satu hal lagi, Tuhan selalu tapat waktu.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Bertahan

Bersamamu, kulewati, lebih dari seribu malam

Penggalan lagu Glenn Fredly tersebut mendadak diputar di siaran radio yang menemani saya bekerja pagi ini. Tetiba, saya teringat akan percakapan tadi pagi yang langsung membuat sisi melankolis saya muncul. Bila ini bukan dalam posisi bekerja, sudah pasti air mata meleleh keluar.

Perasaan saya begitu sedih. Rasanya, semangat untuk menjalani proses ini terus mengintimidasi untuk kendor. Sedih yang tak ingin saya biarkan terlalu lama.

Saya telah dibully oleh perasaan saya sendiri.

Ingin menyerah, tapi saya ingat akan kebesaran karya Tuhan yang luar biasa itu di waktu yang tepat. Saya pun telah menjadi pribadi yang benar-benar berbeda demi memeroleh hidup yang lebih baik, damai, dan indah. Sifat-sifat kemandirian akut sedikit demi sedikit saya kikis. Saya ingat akan semua perjuangan ini. Saya tidak boleh menyerah sekarang.

Logika dan hati kembali bertarung.

Satu hal yang saya percaya bahwa Tuhan ada. Bertahan adalah wujud ucapan syukur saya atas anugerah terindah yang telah Tuhan beri di waktu yang tepat (09122015).

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hidup itu Cerminan Sutradara

Hidup itu memang tak semudah berjalan kaki. Hidup itu juga tak semudah menengokan kepala ke kanan dan ke kiri. Terkadang kaki mengalami halangan sehingga tidak mampu berjalan, begitupun kepala.

Ya, sama halnya dengan hidup. Ketika hidup sudah akan berjalan ke level berikutnya, ada saja yang menjadi penghalang, baik internal maupun eksternal. Kita semua sebenarnya adalah seniman kehidupan yang memiliki skenarionya masing-masing dalam suatu adegan di setiap babak kehidupan. Sutradaranya sudah pasti Tuhan.

Menjadi seniman bukanlah hal yang mudah. Selain butuh bakat atau talenta, dibutuhkan juga mental pemberani serta pembelajar untuk menjadi seniman yang handal. Bakat diperoleh dari melatih diri sendiri memelajari keahlian-keahlian dalam berseni kehidupan. Untuk bisa belajar dibutuhkan pula mental pemberani menghadapi cercaan dari penonton, menghadapi kritik dari lawan main,menghadapi ketakutan-ketakutan diri sendiri, dan menghadapi tantangan-tantangan lainnya.

Semuanya itu diperoleh dari jam terbang seniman dalam berkesenian hidup. Pengalaman akan membentuk seniman menjadi lebih matang dalam menjalani perannya di panggung sandiwara kehidupan. Continue reading

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Lini Masa

Hidup itu proses.
Tak ada hidup tanpa pergumulan.
Jika tanpa pergumulan, artinya hidup sudah selesai.

Hidup itu ada masanya.
Masa lalu, masa kini, dan masa depan.
Masa lalu terjadi karena masa kini.
Masa kini ada karena kita hidup.
Masa depan menjadi proposal harapan kita kelak.

Mungkin….
Masa lalu dilalui dengan traumatik masa.
Ingin membagikannya, tetapi untuk apa? Pikir kita.
Toh, sudah menjadi masa lalu.

Ternyata….
Tak semudah itu.
Masa lalu membutuhkan penyelesaian dan pengampunan.
Menyelesaikan dan mengampuni diri sendiri,
itu yang terpenting.

Demi masa kini dan masa depan.

Tetaplah kuat menjalani setiap masa di hidup ini.
Tenanglah, selalu ada Tuhan yang memegang kita teguh.
Ingatlah setiap komitmen yang dibuat dan disampaikan kepada-Nya.
Hati ini berserah penuh, maka Tuhan membuatnya
Indah Pada Waktu-Nya.

Gunung batu kita adalah Tuhan.
Dia kokoh meskipun sering diterjang angin jahat
yang mencoba menumbangkan-Nya dari kita.

Mari andalkan Tuhan menghadapi ini semua.
Dia tak pernah kecewakan meski kita dan mereka mengecewakan.

Karena….
Harapan tak pernah mati.
Berlarilah pada Gunung Batu kita, Tuhan.
Peganglah janji-Nya.
Tuhan selalu hapuskan tetesan air mata kita.
Sebab, kita berpegang pada Allah yang hidup.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PENDAKIAN PERTAMA: SEBUAH REFLEKSI HIDUP #part 2

Tiba-tiba Mas Ribut berceloteh, “Tahu nggak, kenapa aku membiarkan kamu membawa ransel itu di awal? Karena kalau kamu dari awal merasa ringan dan tiba-tiba di tengah-tengah kamu membawa tas tersebut, pasti untuk menuju puncak kamu akan merasa sulit. Namun, kalau kamu dari awal sudah membawa beban berat dan di tengah-tengah melepaskan beban itu, maka kamu akan lebih ringan menuju puncak”.

Celotehannya saya resapi betul. Saya dalami dan saya cerna. Akhirnya, saya mencapai sebuah penyimpulan pembelajaran yang kedua bahwa celotehannya mengilustrasikan sebuah proses pencapaian masa depan.

Maksudnya begini. Manusia pasti memiliki keinginan yang baik untuk masa depannya. Apabila di masa mudanya manusia hanya enak-enakan, malas-malasan, menjalani hidup ini dengan ringan tanpa beban, maka di masa tuanya dia akan bersusah payah mencapai puncak keberhasilannya. Sama juga dengan meraih sebuah impian. Apabila diawali dengan ketidakniatan, kemalasan, santai, tanpa kerja keras, maka impian tersebut pun (puncak) tidak akan diraih, kalau pun diraih itu harus dengan usaha yang sangat berat. Berbeda jika mengusahakan impian itu dengan kerja keras, meskipun berat tetapi pantang menyerah, maka puncak impian itu pun akan dengan ringan diraih.
Continue reading

Posted in Uncategorized | 2 Comments

PENDAKIAN PERTAMA: SEBUAH REFLEKSI HIDUP #part 1

“Semesta tahu mana yang harus didukung dan mana yang tidak. Niat baik, prasangka baik, maka semesta pun akan mendukung.”

 

Mungkin kalimat di atas pernah atau sering didengar. Segala hal yang positif, baik dari pikiran, niat, maupun baru sebatas asumsi atau prasangka, pasti akan membuahkan hasil yang positif. Hal ini saya terima dari buah perenungan yang setiap pagi hari dilakukan oleh para guru sebelum memulai aktivitas belajar mengajar di sekolah saya. Saya sangat tertarik dengan kalimat tersebut karena saya sangat mengagumi betul karya Tuhan atas Semesta ini.

Telah banyak hal dikerjakan Tuhan melalui Semesta untuk memberikan berbagai hal positif pada saya. Semuanya itu saya yakini betul akan terjadi selama niatan dan prasangka saya juga positif. Saya tidak pernah meragukan karya Tuhan ini. Sebab, sekali lagi, Semesta tahu mana yang harus didukung yang sesuai dengan kehendak penciptanya, yaitu Tuhan.

Suatu hari, saya memiliki rencana unik, langka, nekat, dan mungkin bagi sebagian orang berpandangan ini “gila”. Bagaimana tidak, saya baru memiliki seorang kenalan dari sebuah media internet. Sebelum saya mengikuti program yang disediakan oleh internet tersebut, saya selalu menyandarkan kekuatan saya pada Tuhan. Hingga pada suatu hari, ada seseorang yang tersenyum pada saya dan menyapa saya dengan sopan. Setelah itu, percakapan pun terjadi dan akhirnya kami sepakat untuk melanjutkan percakapan di media sosial yang lebih efektif dan efisien (tanpa harus membuka browser internet).

Kami memiliki kesamaan dan pastinya ada perbedaannya. Kami sama-sama penyuka hijau, bergolongan darah yang sama, suka air (sungai, pantai, air terjun, hujan), dan poin pentingnya, kami sangat menyukai jalan-jalan di alam terbuka, seperti pegunungan dan pantai.

Suatu hari, pria tersebut, sebutlah dia Ribut, mengajak jalan-jalan mendaki Gunung Batu di daerah Jonggol. Ya, saya baru tahu dari dia, ternyata domisili saya memiliki Gunung Batu yang cukup terkenal. Pertemuan pertama (karena belum pernah kenal sebelumnya) dengan cara mendaki gunung. Biasanya, pertemuan pertama adalah dengan makan bersama atau bertemu di suatu tempat santai dan ngobrol di situ. Namun, ini beda. Mendaki gunung yang pastinya akan berkeringat, napas tersengal-sengal, kotor oleh tanah, yah tidak bisa “dandan” untuk tampil sempurna di depan orang yang baru akan dikenal.

Namun, itulah keunikannya. Menurut saya, pertemuan semacam itu akan menampilkan pribadi kita yang apa adanya, tanpa dibuat-buat. Sebab, akan sangat sulit berpura-pura ketika mendaki gunung. Ini pendapat saya. Dan, saya pun memang menginginkan hal yang demikian. Lebih baik menampilkan diri apa adanya dibanding harus tampil sempurna tetapi banyak hal yang ditutupi.

Banyak teman meragukan pertemuan semacam ini. Sampai-sampai, salah seorang teman yang sudah saya anggap sebagai kakak, meminta saya agar memberikan nomor telepon Mas Ribut sehingga jika terjadi sesuatu, mereka dapat menghubunginya. Pesan mereka pun tajam, lebih tajam dari sekadar ‘hati-hati’. Ya, saya pun menurut saja.
Continue reading

Posted in Uncategorized | 2 Comments