Guru pun dijadikan alat untuk politik pencitraan sang Pemimpin. Setelah membaca artikel dari kompas.com hari Rabu, 30 November 2011, diberitakan bahwa pada acara puncak peringatan hari guru nasional dan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang digelar di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat. Pada acara tersebut, sekitar 4500 guru yang hadir di sana berlatih bersama agar bertepuk tangan sambil berdiri ketika Pak Presiden mengabulkan sebagian permohonan atau usulan PGRI.
Enggak banget, deh!!
Apalagi, Sulistyo, Ketua Pengurus Besar PGRI, beralibi bahwa hal tepuk tangan dengan berdiri di luar negeri, sudah menjadi kebiasaan untuk memberikan apresiasi. Oke, kita memang terbuka dengan segala bentuk budaya dari luar tetapi harus disesuaikan dengan budaya sendiri dahulu.
Apakah guru saat ini menjadi sekadar “boneka” bagi pencitraan sang Pemimpin? Apakah sang Pemimpin membutuhkan tepuk tangan untuk menambah nilai kesombongannya? Apakah sang Ketua berusaha mengambil hati dengan teknik ‘asal Bapak senang’?
Kalau saya berada di antara 4500 guru tersebut, saya adalah orang yang hanya akan duduk diam, tidak tepuk tangan apalagi berdiri, dan memandang sinis pada sang Ketua yang memberi imbauan ‘hina’ semacam itu. Bagi saya, lebih baik diam dan mencermati setiap kalimat yang keluar dari sang Pemimpin daripada berkonsentrasi untuk tepuk tangan sambil berdiri pada setiap pernyataan yang mengabulkan permohonan.
Artikel terkait ada di sini