Di dalam benak saya, belum pernah terpikir untuk menjalani profesi sebagai seorang pengajar. Semenjak saya duduk di bangku SMA yang ada dalam benak saya adalah bercita-cita ingin menjadi seorang pencari sarang angin atau wartawan, persis seperti yang saya ceritakan berkali-kali dalam blog ini. Keinginan yang telah menjadi cita-cita saya sejak lama akhirnya memang terwujud. Saya pun mengalami menjadi buruh pencari berita di tengah persaingan para pencari berita lainnya yang berburu narasumber. Sulit dan penuh tekanan. Hampir dua bulan menjalaninya, saya tidak merasakan perkembangan yang signifikan malah semakin frustasi dan sangat tidak menikmati profesi tersebut. Sedih bukan kepalang saya mendapati diri seperti itu.
Setelah kejadian itu, saya benar-benar terpuruk dan kehilangan arah akan ke mana lagi saya langkahkan kaki untuk karier saya ke depan. Selama satu bulan, hidup mengurung diri di rumah orangtua. Ikut-ikutan kegiatan orangtua di gereja maupun di kampung. Menjalani kehidupan kembali seperti saat sekolah dulu, mengepel, mencuci piring, menyapu lantai, membantu mamah masak, dan lain-lain. Kegiatan-kegiatan ini memberikan hikmah tersendiri. Saya baru menyadari, cita-cita saya semenjak SMA hanya obsesi belaka. Menyedihkan. Benar-benar saya merasa sedih akan kesadaran yang serba terlambat itu. Padahal Tuhan sudah peringatkan saya berkali-kali akan cita-cita saya bahwa itu hanya obsesi dan bukan kehendak Tuhan saya menjadi seorang wartawan. Hingga akhirnya, saya menjadi tidak mampu bertahan ketika menjalani profesi sebagai wartawan. Akan tetapi, saya bersyukur Tuhan memberikan kesempatan saya untuk merasakan sendiri profesi yang menjadi cita-cita saya sejak SMA tersebut.
Tiba-tiba saya teringat akan kata-kata dari kawan saya bahwa saya baru bisa disadarkan ketika AKIBAT atau DAMPAK dari keras kepalanya saya sudah terjadi. Memang, membuktikan sendiri akibat tersebut baru saya bisa percaya bahwa merekalah yang benar.
Pasca peristiwa ini, saya benar-benar hidup berserah dalam tuntunan Tuhan saja. Tetapi, tidak habis pikir. Tuhan arahkan saya untuk menjadi seorang pengajar. Sungguh itu di luar dugaan saya. Saya menolaknya. Saya menentangnya. Tetapi semakin saya menolak dan menentang semakin pula hati saya merasa bersalah dan semakin banyak orang mendukung saya menjadi seorang pengajar.
Akhirnya, memang ini benar-benar tangan Tuhan. Saya hanya berserah pasrah biar Tuhan yang tuntun saya akan ladang pekerjaan yang Tuhan kehendaki untuk saya bisa bertumbuh, berkembang, dan menjadi saksiNya. Baru kurang lebih dua minggu saya menjalani pekerjaan menjadi seorang pengajar di Christian Senior High School di Bekasi, Jawa Barat. Jatuh bangun saya menjalaninya bahkan lebih sering terjatuh dan menangis kesakitan merasa tidak layak menjadi seorang pengajar. Namun, Tuhan terus menguatkan saya menjadi batu penjuru dan memberikan kasihNya agar saya mampu bertahan.
Bagaimanakah kelanjutan kisahnya? Saya masih belum mengerti. Karena hal tersebut belum terjadi. Akankah saya bisa bertahan menjadi seorang pengajar di sini? Hanya Tuhan yang berkehendak.
Keren, Bu.. Sabar ya dlm menghadapi kelas sy yg isinya bandel2 itu, hehe… semoga berhasil selalu dlm mengajar!!
This is my lovely Dek Na
saya jadi pengen ikutan bikin blog…
hehe