BERHENTI SEJENAK DAN BERPIKIRLAH

“Dalam kediaman kita, introspeksi dan kontemplasi menjadi bagian yang tak terpisahkan. Diam dapat berarti dipaksa, disadari atau tanpa disadari. Diam dapat pula berarti berhenti.” (Mirza Jaka Suryana)

Penggalan kalimat di atas dituliskan oleh seorang wartawan yang juga peminat sastra dan politik serta hubungan internasional. Kalimat ini dituliskannya sebagai kata pengantar dalam pameran fotografi bertajuk “Jeda” oleh Fotografi Forum Lenteng. Konsep diam yang digambarkannya berawal dari bayangannya pada sebuah ‘saat’. Saat dimana waktu seperti berhenti sejenak dan tidak disadari hingga akhirnya berkata: Ayo, maju lagi! Kemudian, ia menyebutnya: Diam.

Diam di zaman reformasi seperti saat ini agaknya sulit untuk menjadi emas lagi. Pasalnya, kilauan emas pada kondisi diam malah justru akan menjerumuskannya ke dalam lubang kelam, pekat, dan amburadul. Terjatuh ke lubang itu, artinya sulit keluar untuk membersihkan diri.

Tetapi, kondisi tidak diam pun mampu juga menjerumuskannya ke lautan hitam yang kelam pula akibat terlalu banyak berkomentar. Dicaci, dicemooh, dihujat akibat omongannya sekadar awang-awang saja. Padahal, bisa jadi omongan itu memang benar adanya. Inilah, akibat dunia carut marut oleh pergantian zaman yang membuat segalanya ambigu dan absurd. Bergerak begini dicerca, bergerak begitu tersandung. Maka, lebih baik berhenti sejenak dalam kondisi ‘jeda’.

Konsep ‘jeda’ sering diagungkan dalam dunia fotografi, dunia yang mencoba mengambil secuil realitas dalam sebuah ‘jeda’ yaitu tangkapan peristiwa sejati dari objek realita. Menurut Mirza, bicara mengenai realitas maka tak terlepas dari pembicaraan mengenai hal-hal yang berada di luar kendali. Realitas merupakan objek-objek yang dalam banyak hal menghilangkan subjek-subjek. Fotografi membantunya menemukan kendali atas objek untuk menemukan subjek tersebut.

Agak rumit memang membicarakan realita dan suatu tangkapan realita dalam gambar. Tapi, satu hal yang pasti, gambar lebih bisa mengungkap suatu kejujuran di tengah kemarutan dunia. Fotografer sejati akan mengendalikan dirinya untuk tidak menghilangkan (editing) terlalu banyak realitas yang tertangkap olehnya.

Pada akhirnya, realitas merupakan tempat paling mutakhir untuk bisa disambangi. Menghentikan realitas seperti menghentikan sesuatu yang mustahil. Tetapi, bagaimana untuk bisa mengendalikan atas segala hal bernama realita, mampu membuat terbahak serta senyum merekah di bibir.

Bagi Mirza, fotografi dalam banyak hal merupakan perbincangan mengenai objek, tetapi menemukan subjek dalam fotografi merupakan kemenangan tersendiri. Menangkap keindahan dari objek adalah kemenangan subjektif.

Kemenangan subjektif inilah yang dinamakan suatu kondisi dalam ‘jeda’, karena fotografer telah menjadi pemenang kendali, penangkap keindahan sejati. Setiap benda, peristiwa, dan situasi yang dicapture atau direkam dalam fotografi adalah suatu usaha untuk stand against time atau melawan waktu.

Tetapi, akan lebih mudah untuk menghentikan waktu (jeda). Di waktu lalu, ada senyum merekah terekam, tangisan, kebohongan, ketakutan, kekosongan, apapun itu dihentikan melalui foto. Kesulitannya terletak pada proses menghentikannya. Sebab, proses ini berbicara mengenai bagaimana membuat sebuah foto menjadi lebih indah dan mampu berbicara kepada publik.

Apa yang dapat dikategorikan sebagai keindahan momen saat dicapture melalui bidikan lensa kamera sampai kepada kondisi menemukan the true moment of beauty. Sebuah waktu yang terhenti dengan tepat dan pada saat yang sama tidak dapat melepaskan diri untuk tidak melihatnya.

Keindahan sejati yang bisa merasuki jiwa adalah keindahan sendiri yang bersifat personal. Manusia selalu ingin menangkap momen keindahan personal yang menyeruak keluar dari kedalaman dan tersebar.

Jika membicarakan konsep ‘jeda’ dalam konteks durasi, hal itu hanya akan mendapatkan kenangan. Dalam bahasa Indonesia, jeda bersipadan dengan berhenti sejenak. Namanya sejenak tentu tidak selamanya, karena setelah itu aka nada kelanjutan. Meski ‘jeda’ terdengar sebagai kata yang indah, namun sebenarnya manusia masih terjebak pada konsep durasi yang sangat berkaitan dengan waktu.

Tetapi, sebuah definisi adalah sesuatu yang diangankan secara personal, bukan sesuatu yang orang lain inginkan. Ini menjadikan ‘jeda’ sebagai sebuah konsep personal. Apa yang orang lain inginkan mungkin tidak sesuai dengan apa yang diangankan. Sebuah permulaan konsep primordial.

Setiap manusia adalah korban dari sifat personalnya sendiri. Tetapi, dengan demikian setiap manusia menjadi pemenang atas dirinya sendiri secara bersamaan. Mulailah dari aksi. Ketika mulai menenteng kamera, mengisinya dengan roll film atau multimedia card, kemudian menentukan objek dan satu kali jepretan, inilah saat fotografer berada di wilayah aksi.

Lelah dengan dunia carut marut, masuklah ke dunia ‘jeda’ untuk berhenti sejenak dan berpikir.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s