Aku sudah terlalu lama hidup dalam kotak kenikmatan yang juga Kau rencanakan mewarnai kehidupanku. Aku tak menyesal hidup lama dalam kotak ini karena kotak ini memberi karakter femininku. Karena seusai SMA aku tak menemukan esensiku sebagai perempuan. Aku selalu protes akan jenis kelaminku yang membuatku tersisihkan dari pergaulan keluarga maupun secara umum. Akan tetapi di kotak itu, aku temukan kenikmatan menjadi perempuan lembut dan ramah layaknya perempuan Jawa. Menjadi perempuan yang lembut membutuhkan perjuangan keras karena Engkau ijinkan aku bergumul dengan banyak masalah besar yang menyerang hati serta rasaku.
Aku melembut saat kekerasan menimpaku. Aku tersenyum saat badai menjamahku hingga telanjang. Aku tertawa saat pisau menyayat kulitku hingga jeroanku tertumpah keluar. Akan tetapi, aku menangis saat hatiku tiada lagi mampu kurasa. Aku meronta saat rasaku telah hancur lebur oleh gilasan egoku sendiri. Aku terkotak pada pribadi tanpa rasa.
TUHAN, tak terbayang saat itu aku hidup tanpaMu. Tapi itu juga sudah pasti Kau rencanakan. Kini aku menyadari, Kau kebutuhan pokokku. Kau sandaranku. TUHAN, aku lemah tanpa belaianMu.