Jangan Lagi Sebut Mereka “Orang Miskin”

Berawal dari pernyataan seperti ini, “Tuhan itu benci dengan orang miskin. Tuhan itu cintanya dengan orang kaya. Orang miskin tidak bisa dapat pahala. Bagaimana mereka bisa dapat pahala, untuk makan satu suap nasi saja mereka mikir seribu kali. Orang kaya bisa mendapat pahala karena bisa menyumbang. Bencana alam itu banyak menimpa siapa? Orang miskin, bukan? Contoh saja, bencana Merapi kemarin, banyak menimpa siapa? You know kan?”

Hati saya sakit mendengar pernyataan semacam ini. Namun, entah mengapa mulut saya seakan terkunci, tak mampu menyanggah pernyataan beliau oleh karena rasa segan yang berkembang menjadi rasa tidak simpatik saya pada beliau. Pikiran saya pada saat itu bahwa percuma saja saya beradu argumen dengan beliau oleh karena beliau seakan menganggap dirinya lah pemilik kekuasaan dalam ruang tersebut. Kekerasan anggapan tersebut begitu kentara dalam raut wajah beliau sepanjang percakapan kami.

Dan, saya pun diam saja tanpa mengangguk atau pun menggeleng.

——————————————————————–

Setelah kejadian tersebut, saya mencoba untuk menetralkan amarah. Amarah di hati saya membuat saya tidak mampu berpikir jernih. Saya sungguh tidak ingin tersinggung dengan pernyataan beliau. Namun, saya tidak bisa berbohong bahwa saya marah. Ya, saya marah. Seolah beliau adalah Tuhan berwujud manusia pada zaman sekarang. Bukankah Tuhan tidak membedakan miskin dan kaya? Atau jangan-jangan saya lah yang salah mendapat teori keTuhanan semacam itu bahwa Tuhan tidak membedakan miskin dan kaya?

——————————————————————–

Beliau melanjutkan pernyataannya, “Mengapa bencana selalu menimpa orang miskin? Karena mereka tidak pernah memiliki pemikiran yang bagus mengenai orang kaya. Orang miskin selalu berburuk sangka kepada orang kaya. Kaya sedikit saja dibilang hasil korupsi, tidak jujur, sombong, dan lain-lain. Padahal apa? Yang menyumbang itu kan orang-orang kaya juga. Bukannya berterima kasih malah dijelek-jelekkan begitu.”

Ya, saya hanya seorang perempuan saat itu. Saya akui saya tidak memiliki proporsi cukup untuk berbicara saat itu. Tapi, hasilnya, sekarang saya merasa terbebani dan menjadi seorang pengecut yang tidak berani membela di hadapan beliau. Karena saya pun masih hidup di bawah ketiak orangtua saya yang kehidupan ekonominya cukup saja. Saya belum memiliki pekerjaan. Saya belum memiliki background yang cukup. Ya, saya minder.

——————————————————————–

Banyak saya mencoba membahas hal ini pada kerabat saya. Apa yang terjadi bahwa mereka merasakan amarah yang sama. Kemiskinan tidak bisa hanya diukur dari materi saja. Uang banyak tetapi miskin perhatian, apa bedanya? Uang sedikit tetapi kaya akan kepasrahan pada Sang Hyang Widi, bukankah itu lebih baik? Inti dari kekayaan materi adalah kecukupan. Sebanyak apa pun harta yang dimiliki seseorang jika dirinya tidak memiliki rasa cukup, apalah arti hartanya yang melimpah itu?

Banyak saja kasus harta melimpah namun tidak merasa cukup sehingga mengundang orang tersebut untuk berperilaku menyimpang, dalam artian memanipulasi dan korupsi. Apakah saya sedang ikut-ikutan menjelek-jelekkan orang kaya seperti yang dinyatakan oleh beliau? Saya rasa tidak. Oleh karena fakta berbicara seperti itu. Berita di televisi, media massa, media on line, dan radio memberikan fakta-fakta tersebut.

Sama halnya dengan orang yang memiliki harta sedikit. Apabila tidak mencoba mencukupkan diri dengan hasil yang diperoleh pada hari itu, orang akan mencari cara dan menghalalkan segala cara untuk memperoleh harta. Mencuri, mencopet, mengemis (maaf, walau beberapa orang menganggap mengemis itu adalah pekerjaan halal namun berbeda bagi saya. Mengemis sama halnya dengan mencuri karena seolah memaksa orang untuk memberi dengan penampilan compang-campingnya yang tidak sedikit dari mereka hanya sebuah sandiwara. Saya masih tidak habis pikir dengan para pengemis di perempatan jalan yang dijemput pulang oleh semacam manager mereka.), dan merampok.

Jadi, saya bukan membela orang yang beliau sebut miskin itu. Saya pun tidak mengolok-olok orang yang beliau sebut kaya itu. Miskin dan kaya itu sebenarnya tidak ada. Inti dari semua ini terletak pada manusia itu sendiri. Yang menjadikan manusia miskin dan kaya adalah pribadi manusia itu sendiri. Manusia adalah ciptaan Tuhan. Adakah pencipta akan membenci ciptaanNya? Seniman lukis saja akan mencintai karyanya sedemikian, apalagi Tuhan? Merasa “cukup” dalam segala hal, baik itu harta, cinta, kasih sayang, segala aspek kehidupan, saya rasa kunci dari kedamaian hidup berkeluarga di dunia ini.

Kita semua saudara, kawan. Hanya yang membedakan kita adalah pribadi manusia itu sendiri. Tinggal apakah kita akan membeda-bedakan atau hidup membaur tanpa ada kesenjangan pergaulan? Itulah pilihannya.

2 Responses to Jangan Lagi Sebut Mereka “Orang Miskin”

  1. Wuuiiiihhh.. Seberapa marahkah ekspresikamu saat mendengarnya??

    Tapi aku salut ma pemikiranmu, memang ga semua orang diberikan rasa cukup, tak semua orang bisa mendekatkan pada Yang Maha Esa. Dan tak seharusnya seseorang ato kita memberikan penilaian akan kasih sayang dan pahala yang kita terima. Karena mereka ga akan pernah tau rasa yang diberikan Tuhan pada umatnya berbeda beda, nikmatNya pun berbeda beda, dan semua adalah ujianNya. Yang pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawaban, itulah dimana kita mengetahui diri kita yang sebenernya, keihklasan ato ketamakan.. Hanya Tuhan yang boleh menilai keikhlasan dan pahala kita.
    “menurut ane sih, hehe”

    • Hai, Mahandy yang saya panggil Handoy!! Terkejut sekali kamu singgah ke sini. Maaf sekali baru sempat membalas. Hehe…

      Wah, ekspresi marah saya tidak terlihat secara nampak hanya saja amarah itu bergelora di hati saya. Setelah saya menumpahkannya ke dalam tulisan, hati ini rasanya agak lega. Amarah bisa tersalurkan. Hehe…

      Yup, betul sekali. Ikhlas atau tamak, pilihan dari kecukupan harta. Senang sekali bisa berbagi. Terima kasih ya sudah singgah. Selamat bertemu di lain tulisan saya. Salam. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s