Perjalanan pulang kami adalah melalui jalur yang berbeda. Kami akan melewati Kaliurang. Saat bersiap-siap akan pulang, tiba-tiba hujan begitu derasnya mengguyur bumi ini. Oleh karena pemilik boarding house harus cepat kembali ke Yogyakarta karena ada praktek kerja dan harus masuk kerja di shift malam, kami harus pulang dalam kondisi apapun. Hujan deras kami lalui dengan menggunakan jas hujan.
Menerjang angin, menerjang guyuran hujan yang begitu deras adalah tantangan tersendiri. Mata melotot melihat jalan karena jarak pandang sangat pendek saking derasnya. Hingga pada suatu waktu, saya melongo dan memperlambat gas motor saya. Saya terpana melihat sekeliling saya yang tidak asing. Sepertinya pemandangan seperti ini pernah saya lihat di televisi.
Lisna menjelaskan bahwa itu adalah Kali Woro. Jalan yang kami lalui itu adalah jembatan yang tadinya tujuh meter dari Kali Woro. Wow, sekarang ketinggian kali itu sejajar dengan jembatan tersebut akibat banjir lahar dingin Gunung Merapi. Saya benar-benar terpana. Saya melewati lokasi bencana. Humm…
Lagi-lagi lahar dingin. Ketika kami hampir sampai di Kaliurang, ada orang berteriak-teriak dari dalam mobil menyuruh kami untuk balik arah karena Kaliurang terkena banjir lahar dingin. Ha?!?!?!?!
Karena ingin aman, kami pun balik arah dan ambil jalan melewati prambanan. Fiuh, lagi-lagi Jalan Solo. Saya agak jenuh melewati jalan ini. Hehe…
Begitu sampai, semua melepaskan jas hujan dan baju yang basah dengan berebut ember. Hahaha…
Kami pun segera mandi (diutamakan para pengendara motor). Kecuali satu kawan sebelah kamar saya bersikeras tidak mau mandi karena dingin. Namun begitu, kawan saya itu berbaik hati membuatkan teh panas untuk kami semua. Keadaan Blangkub saat itu mati listrik. Jadi kami bergelap-gelapan dalam dingin derasnya hujan. Anehnya, hujan tiba-tiba berhenti begitu saja ketika kami semua sudah sampai di Blangkub. Wah, hujan nyatanya iri dengan travelling kami sehingga ingin ikut menyertai kami. Hihihi….
Pengalaman yang menyenangkan. Perjalanan ini membekas terus dalam benak kami semua. Hati kami semua begitu gembira dan segar. Tali persaudaraan pun semakin erat antar penghuni Blangkub. Semoga ini menjadi kisah klasik yang dikenang sepanjang masa. Amin.
**Ngomong-ngomong, kunci saya berhasil saya ambil sendiri dengan cara menyeberang ke balkon tersebut. Dibantu oleh kawan sebelah kamar saya dan kenekatan adrenalin saya. Kunci dengan mudah diambil. Saya dan kawan saya itu (Dita namanya) bertanya-tanya, “mengapa tadi rasanya sulit sekali tetapi sekarang kok mudah sekali, ya?” Jawabannya adalah: NEKAT.
Yogyakarta-Boyolali-Yogyakarta
Pingback: Pesta Durian di Boyolali #2 | do not back down, keep going forward