Melankolia Pagi Hari

Pagi-pagi saya bangun dalam keadaan hati yang sendu. Mungkin ini yang dinamakan melankolia pagi hari. Membuka mata dan duduk di atas tempat tidur. Kembali memejamkan mata menyapa Sang Khalik, mensyukuri atas segala keselamatan dan memohon perlindungan selama menjalani sisa waktu di hari ini. Ya, sisa waktu. Saya selalu merasa bahwa hari ini hanya seperti waktu yang tersisa untuk saya isi dengan hal-hal yang berguna.

Membuka mata kembali dan terbayang akan percakapan semalam dengan Mbak Sha, wartawan perempuan yang tangguh dan tidak keburu nafsu dalam memburu beritanya. Selalu tenang dan berhasil mengambil hati narasumber dengan senyumnya.

Kami bercakap-cakap tentang kehidupan media dan pekerja media masa kini serta membandingkannya dengan apa yang ada di masa lalu. Kami mencaci, memojokkan beberapa media yang kami anggap ‘bobrok’ karena hanya mementingkan sisi industri tanpa memikirkan idealisme pers yang seharusnya masih dipertahankan sampai kapan pun. Tak hanya itu, kami mencoba mencari jalan keluar agar pers dapat keluar dari ‘kebobrokan’. Hasilnya memang religius, takut akan Tuhan itu kuncinya. Hahaha … itu hanya simpulan dari segala jalan keluar yang kami utarakan satu sama lain.

Hampir sirna kemurnian pers dalam memberitakan beritanya. Masih saja selalu ada ‘kepentingan’ di balik itu semua. Saya bertanya, “Apakah tidak ada media yang mempertahankan kemurniannya walaupun tirasnya tidak sebanyak media yang condong ke arah industri semata?” Jawabnya, “Mungkin seperti media independen, seperti presma.”

Ya, saya setuju. Mahasiswa dengan geloranya yang membara dan otaknya yang masih segar mengamati segala tingkah laku manusia di bumi ini, mengkritik, tak segan untuk menghujat secara santun, dan menuliskannya pada sebuah media walaupun masih dalam ruang lingkup kampus, tapi itu sudah menjadi salah satu usaha dari golongan muda untuk mengingatkan kembali akan sebuah idealisme, yaitu idealisme pers. Walaupun pada kenyataannya, setelah mahasiswa itu terjun ke dunia pers yang sesungguhnya, banyak batu dan kerikil yang ‘menyandungi’ idealisme yang mereka pertahankan sewaktu masih hidup di kampus.

Hmm, saya pikir tulisan Ronggowarsito dalam serat Witoradya dapat menjadi solusi untuk menghadapi segala hal yang terlihat negatif. Kira-kira seperti ini, “Suro diro djajaningrat lebur dening pangastuti.” Artinya, segala kekuatan negatif yang ada di dalam masyarakat (dalam hal ini pers dan segala perangkat yang ada di dalamnya) bisa ditaklukan dengan lemah lembut dan penuh sopan santun, merendah dan bijaksana. Tak perlu terlalu keras menghadapinya.


Yogyakarta, 12 11 ’10

3 Responses to Melankolia Pagi Hari

  1. Tetapi harus ada yang berjuang, harus ada yang bergerak melawan dengan cara-caranya masing-masing. Tidak mungkin suro diro itu lebur kalau tidak ada perlawanan sama sekali

  2. Salam saya Mas …

    Saya akan mampir-mampir kesini ya …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s