Tulisan ini merupakan pengalaman “nekat” saya. Ada banyak kenekatan yang saya lakukan dan ini salah satu dari sekian bentuk kenekatan saya.
Beberapa hari belakangan ini saya merasa linglung dan bingung mau melakukan apa, apa yang harus dilakukan, di mana, kapan, ya…benar-benar tak punya tujuan. Hingga pada hari Senin, 18 Oktober 2010 saya SMS Mas Wawan (seseorang yang telah saya anggap seperti “mas” saya sendiri walaupun keluarga kami tidak saling kenal) bahwa saya merasa stress atau tertekan dengan keadaan yang tanpa tujuan seperti ini. Kemudian Mas Wawan menawarkan pada saya untuk datang ke rumah sanak saudara Mas Wawan di Proketen, Srandakan, Bantul, Yogyakarta dan akan diajak ke pantai. Mendengar tawaran seperti itu spontan saya gembira karena pada akhirnya perjalanan saya hari itu punya tujuan juga, yaitu Proketen dan pantai.
Waktu itu sudah pukul 12.00 WIB. Mas Wawan meminta saya untuk berangkat pukul 12.30 WIB saja setelah dhuhur. Saya pun manut walau saya sebenarnya saya sudah siap untuk berangkat.
Pukul 12.30 tepat saya berangkat. Perjalanan yang tidak asing karena tahun kemarin saya KKN (Kuliah Kerja Nyata) di Pandak, Bantul, Yogyakarta yang arahnya sejalan dengan Srandakan. Menempuh perjalanan ini seperti mengingatkan kembali kisah-kisah semasa KKN dulu. Problema yang terjadi, konflik, persahabatan, percintaan, bahkan perselingkuhan bisa terjadi semasa KKN. Hal ini saya saksikan betul sewaktu KKN tahun lalu. Sampai-sampai, bos tempat saya bekerja berkata bahwa KKN menjadi ajang pengujian iman seseorang. Ya, bisa dikatakan seperti itu. Tapi, asal memiliki prinsip yang kuat dan penjagaan pada prinsip yang lebih kuat lagi, saya kira KKN tidak akan menjadi mata kuliah yang ber-”momok”.
Akhirnya saya sampai di SMA Negeri 1 Srandakan. Saya langsung telepon Mas Wawan. Melalui bantuan Mas Wawan lewat telepon genggam, saya mengarahkan motor saya agar dapat sampai di rumah sanak saudara Mas Wawan. Ketika sampai, pemikiran pertama yang terlintas dalam benak saya, “Wah, kembali ke rumah nenek.” Begitu luas halaman rumahnya. Ditanami banyak pohon pisang, rumah yang sederhana namun aura rumah tersebut terasa mewah dalam batin saya, kandang kambing, ayam yang berkeliaran, aroma tanah, tungku masak yang menghangatkan, dan euphoria pun melanda saya. Sampai-sampai saya terlalu asyik merasakan setiap senti ketenangan dan kebahagiaan yang terjadi waktu itu. Peralihan yang sangat cepat. Ketika di Yogyakarta saya merasa suntuk dan tertekan, sesampai di sana merasakan kehangatan sebuah keluarga besar yang penuh canda dan tawa.
Jujur saja, saya hampir autis di sana. Saya bersenang-senang dengan euphoria ini. Untung saja Mas Wawan selalu menegur saya untuk makan ini dan itu, minum, membantu mbak-mbak di belakang mencuci piring, ngobrol dengan Pakdhe, dan banyak lagi. Namun, ada satu hal yang saya sayangkan terhadap diri saya sendiri, saya tidak bisa membaur dengan keponakan-keponakan Mas Wawan yang masih kecil. Entah mengapa, saya tidak tahu. Sejak dulu saya memang agak sulit membaur dengan anak kecil. Saya lebih senang membaur dengan orang-orang dewasa dengan segenap permasalahan hidup yang mereka perbincangkan. Mungkin hal ini dikarenakan kondisi saya yang tidak memiliki adik dan hanya memiliki dua orang kakak.
Orang-orang yang paling berkesan dalam keluarga tersebut adalah Pakdhe dan Mbak Erni. Pakdhe merupakan sosok pria sepuh yang berjiwa muda. Pakdhe penuh canda, memaksa seperti anak muda, membentak seperti orangtua, membimbing seperti kakek, dan mantap menjalani kegiatannya. Semangat hidup Pakdhe begitu kentara saya rasakan. Melihat Pakdhe muncul semangat dalam batin saya. Pakdhe sosok yang tak pernah kehabisan kegiatan. Selalu saja ada kegiatan yang dilakukan. Tidak seperti saya yang selalu kebingungan jika tak ada kegiatan lagi. Saya menjadi sadar, hal kecil pun menjadi kegiatan yang berarti dalam menjalani kehidupan ini.
Mbak Erni memberi saya teladan akan ketegasan sebagai seorang wanita dan ibu, kasih sayang, perhatian, kepekaan perasaan wanita terhadap masalah-masalah yang kecil dan detil, dan Mbak Erni adalah sosok yang tidak pemalas. Seperti Pakdhe, selalu saja ada sesuatu yang perlu dikerjakan. Saya menjadi malu sendiri terhadap diri saya sendiri yang terkadang menghabiskan satu hari untuk bermalas-malasan.
Mas Wawan sendiri memberi pelajaran pada saya untuk hidup mandiri, keluar dari zona nyaman, luwes bergaul, dan menghargai segala sesuatu yang dimiliki. Banyak teguran Mas Wawan yang menampar muka saya. Mas Wawan berkata, “Di sini kamu itu harus melepaskan statusmu sebagai mahasiswa, membaur sama orang-orang di sini, berbahasa Jawa saja, jangan Bahasa Indonesia. Orang Jawa saja kok memakai Bahasa Indonesia di desa.”
Plak!! Saya tertampar dengan kata-kata Mas Wawan. Saya kurang percaya diri menggunakan bahasa Jawa krama. Tidak mungkin saya bicara ngoko dengan orang-orang yang lebih tua dari saya. Jadi, daripada salah berucap saya pun memakai bahasa Indonesia untuk berkomunikasi selama di sana.
Pelajaran hidup ini jarang sekali saya terima. Bermalam di rumah Pakdhe dan bisa tidur nyenyak hingga bermimpi indah, membuat pikiran saya yang ruwet kembali lurus secara perlahan. Tenang dan sabar itulah pelajaran utama dari perkenalan saya dengan keluarga Mas Wawan. Terimakasih Mas Wawan buat pengalaman yang berharga ini.
Proketen, Srandakan, Bantul, Yogyakarta



woooooooooooo,,,, dasar cah.. jadi kamu bilang mau enghilang tuh kesini toh. kapan2 aku melu yo. eh omah’e akeh kunang-kunang’e ra??
Hahahaha….Masalah mau menghilang belum ditentukan tempatnya, kok. Belum tentu juga ke sini. Hehehe….Hanya aku dan Tuhan yang mengetahui tempat penghilanganku. Hee…
Yo, nanti tak minta izin ke Mas Wawan boleh ikut enggak dirimu. Hee…
Kunang-kunang kurang tahu, waktu itu hari sedang hujan lebat. Jadi, tak terlihat ada kunang-kunang. Tapi banyak kebun dan sawah membentang, kemungkinan besar ada banyak pula kunang-kunang tersebar di sana.