Kali ini saya ingin membagikan kumpulan kalimat dari dua novel yang saya baca kembali belakangan ini dari Sang Maestro Sastra, Paulo Coelho. Buat saya, Paulo Coelho adalah Sang Maestro karena beliau sanggup memberikan pesan moral dalam setiap tulisannya. Pesan itu tentu saja tidak secara tersurat, namun tersirat dan penuh makna. Kira-kira seperti ini:
Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis -Paulo Coelho-
“Aku merasa, hatiku tidak membutuhkan penderitaan lagi. Jika kepedihan harus datang, biarlah ia datang dengan cepat. Karena aku memiliki kehidupan dan aku harus menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Kalau ia harus membuat pilihan, biarlah ia melakukannya sekarang. Dengan begitu aku bisa menunggu atau melupakan dirinya.
Menunggu sangatlah menyakitkan. Melupakan amatlah menyakitkan.
Namun, tidak mengetahui apa yang harus dilakukan adalah penderitaan yang paling menyakitkan.”
Eleven Minutes -Paulo Coelho-
Terkadang: seakan-akan kehidupan sengaja memilih cara yg culas dan keji untuk mendewasakan dan membimbing menemukan misteri dirinya,cahaya jiwanya,sekaligus sisi gelapnya..
Ibarat Roller-coaster: hidup adalah permainan yang berdesing cepat memabukkan; hidup adalah petualangan terjun dengan parasut; berani mengambil resiko, jatuh dan bangkit kembali; berani mendaki hingga ke puncak; punya keinginan untuk memaksimalkan diri, bisa merasa marah dan tidak puas saat gagal melakukannya.
Aku bukanlah tubuh tanpa jiwa, aku adalah jiwa yang memiliki bagian yang kasat mata, namanya tubuh. Sepanjang hari aku menyadari kehadiran jiwa ini, melebihi biasanya. Dia tidak berkata apa-apa padaku, tidak mengkritik, atau mengasihani diriku: dia sekadar mengawasiku.
tambahan dari The Witch of Portobelo
-: Why do you love me?
+: I don’t know, and I don’t care.
mengena banget tuh hahaha
mbok ya saya dipinjami bukunya
Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis dan Eleven Minutes
Itu judul-judul Novelnya ya?
iya, betul….pernah baca ya?