Kekukuhan Bahasa DEWI KAWI

Tugas Teori Sastra: Prof. Dr. Suminto A. Sayuti

Kehidupan manusia yang beragam selalu tidak pernah lepas dari adanya konflik, baik itu konflik dalam batinnya sendiri maupun melibatkan orang lain dalam kehidupan sosialnya. Hal inilah yang mendorong sebagian besar pengarang karya sastra mengekspresikan kehidupan manusia dalam sebuah tulisan dengan menggunakan bahasa sebagai sarananya. Maka dari itu, boleh dikatakan bahwa karya sastra merupakan hasil pemikiran tentang kehidupan yang diciptakan oleh pengarang untuk memperluas, memperdalam, dan memperjernih penghayatan pembaca terhadap salah satu sisi kehidupan yang disajikan. Melalui pengalaman dan kehidupan batin tokoh-tokoh fiktif dalam sebuah karya sastra, pembaca dapat memperoleh pengertian mengenai tema-tema kehidupan, seperti tema sosial, penindasan, cinta kasih, pengorbanan, korupsi, dan lain-lain.

Setiap sastrawan memiliki kebenarannya sendiri yang hendak dibuktikan dalam karyanya. Kebenaran ini tidak selalu eksplisit tetapi terkadang tersembunyi dibalik kata-kata yang dirangkai dan disajikan dalam karyanya tersebut. Dari suatu kebenaran yang diasumsikan benar oleh seorang sastrawan sebagai dasar penulisan karya-karyanya inilah kemudian akan menurunkan rangkaian kata yang membentuk karyanya.

Dalam membangun kerangka pemikirannya, sastra merangkai baris-baris kata dan alur ceritanya untuk menata dunia rekaan sastrawan dalam karyanya tersebut. Serangkaian kata-kata dan alur cerita dalam karya sastra yang membentuk sebuah dunia rekaan tersebut menggugah pembaca dengan pesona yang seolah-olah nyata terjadi.

Kegiatan kreatif pengarang dalam menciptakan karya sastra terkait erat dengan penggunaan naratif untuk menyusun peristiwa-peristiwa sesuai alur waktu sedemikian rupa sehingga menjelma dunia yang seolah sungguh-sungguh terjadi dan punya kemungkinan untuk terjadi. Setiap sastrawan menyusun bangunan kata-kata yang menampilkan dunia tersendiri, menghadirkan citra-citra imajiner yang baru, lain dari yang lain. Pembaca larut di sana, menghayati diri berada dalam dunia rekaan sang sastrawan. Dan, bukan tidak mungkin nantinya, dunia rekaan itu mewujud menjadi situasi baru, memperbaharui dunia dengan perwujudan konkret citra-citra imajiner.

Representasi sastra terletak pada saat sastra tersebut menampilkan dirinya sendiri. Kebaruan dari sebuah karya sastra berperan penting untuk menunjukkan dirinya sendiri bahwa karya tersebut unik. Dengan begitu, dapat dipahami bahwa karya sastra selalu berusaha menjaga kata-kata agar tidak “berkarat” sehingga memiliki kekuatannya sendiri.

Pandangan Formalisme Rusia
Seperti yang sudah dikatakan tadi di atas bahwa dalam membangun kerangka pemikirannya, sastra merangkai kata-kata dan alur cerita sedemikian rupa pada sebuah dunia rekaan sastrawan melalui bahasa sebagai sarananya. Rangkaian kata-kata ini tidak terlepas dari pembahasan mengenai strukturalisme sastra. Strukturalisme berkaitan dengan Formalisme Rusia yang lahir dari sekelompok teoritisi yang menamakan dirinya “kaum formalis” dan dipandang telah menyumbangkan sejumlah pemikiran dan gagasan penting bagi perkembangan studi telaah sastra. Victor Shklovsky, Boris Eichenbaum, Roman Jakobson, dan Leo Jakubinsky adalah beberapa teoritisi yang bergabung di dalamya.

Prinsip yang mendasari studi kaum formalis bukan dititikberatkan pada, “bagaimana sastra dipelajari” melainkan lebih merujuk pada “apa yang sebenarnya menjadi persoalan pokok dari studi sastra itu sendiri”. Bagi kaum formalis, sebagaimana yang ditegaskan Jakobson, “objek ilmu sastra bukanlah (kesu)sastra(an), melainkan kesastraannya (literariness) ― yaitu yang menjadikan sebuah karya bisa disebut sebagai karya sastra ―”. Sedangkan di sisi lain, Eichenbaum menjelaskan bahwa karakteristik dari (cara kerja) kaum formalis hanyalah berusaha untuk mengembangkan ilmu sastra secara tersendiri yang studinya lebih dikhususkan pada bahan-bahan kesastraan (literary material); artinya hanya menyarankan untuk mengenali fakta-fakta teoritis yang tersimpan di dalam seni sastra. Dalam hal ini, ide dan prinsip (dari studi) kaum formalis tersebut diarahkan pada suatu teori umum estetika.

Salah satu tujuan utama Formalisme Rusia adalah studi ilmiah mengenai sastra. Ini sebenarnya didasarkan kepada keyakinan bahwa studi seperti itu sangat mungkin dan memang pantas dilakukan. Bahkan, walaupun tidak didiskusikan lebih lanjut, keyakinan ini berlaku sebagai salah satu premis Formalisme. Kaum Formalis mempertanyakan studi ilmiah sastra dengan keyakinan bahwa studi-studi tersebut dapat meningkatkan kemampuan pembaca untuk membaca teks-teks satra dengan cara yang tepat yaitu memperhatikan sifat-sifat teks yang dianggap artistik dan sastawi.

Dengan demikian, kaum formalis sebenarnya mulai mencoba untuk melepaskan studi sastra dari hal-hal lain yang berdiri di luar dirinya. Mereka melihat sastra sebagai sebuah entitas otonom. Dengan karakteristik gerakannya yang berusaha untuk menumbuhkan gairah baru bagi positivisme saintifik, kaum formalis menolak setiap bentuk interpretasi terhadap karya sastra yang dikaitkan dengan asumsi filosofis, psikologis, estetis, dan sebagainya. Bagi kaum formalis, seni harus dipertimbangkan terpisah dari estetika filosofis maupun teori-teori ideologis. Maka dari itu, (objek) studi sastra ditempatkan secara spesifik sehingga keberadaannya bisa terbedakan dari objek ilmu-ilmu lainnya.

Kedekatan metode formal yang digagas kaum formalis dengan keberadaan ilmu lain hanyalah dengan linguistik. Hal ini menjadi bisa dimungkinkan karena linguistik merupakan ilmu yang bersentuhan (secara langsung) dengan “poetika” yang menjadi titik perhatian bagi (objek) studi sastra. Kendatipun demikian, kaum formalis ini memang boleh dikatakan mendekati linguistik dari perspektif dan permasalahan yang berbeda. Hal ini setidaknya terlihat dari ketertarikannya terhadap linguistik dalam relevansinya dengan bahasa yang menjadi sarana artikulasi sastra. Dalam hal ini, kaum formalis menyikapi komponen-komponen linguistik yang tersedia di dalam bahasa (fonetik, morfem, sintaksis, maupun sematik; begitu pun halnya dengan ritma, rima, matra, akustik/bunyi, aliterasi, asonansi, dan sebagainya) sepanjang hal itu dimanfaatkan oleh pengarang sebagai sarana untuk mencapai tujuan “artistik” (efek-efek estetik).

Salah satu unsur yang menonjol dalam Formalisme Rusia adalah dalam hal otonomi bahwa sastra merupakan sesuatu yang berdiri sendiri dan mandiri. Bagi Formalisme Rusia, otonomi adalah sesuatu yang mandiri namun karena sastra juga merupakan salah satu bentuk seni maka sastra dianggap serumpun dengan seni-seni lain sehingga jika diperlukan karya sastra bisa saja dihubungkan dengan seni musik, seni tari, seni lukis, dan lain-lain. Jelaslah bahwa Formalisme Rusia mengajak para kritikus untuk memberikan perhatian yang lebih pada karya sastra itu sendiri.

Formalisme Rusia hanyalah menilai suatu karya melalui sarana-sarananya. Misalnya sarana bahasa yang disuguhkan dalam suatu karya. Apakah itu merupakan bahasa sastra atau bahasa seadanya.
Dewi Kawi merupakan novel yang menceritakan tentang seseorang bernama Eling yang mencari cinta lamanya ketika muda bernama Kawi. Kawi merupakan seorang wanita tuna susila yang sanggup mendorong dan mengubah hidup Eling dari kehidupannya yang serba sengsara menjadi kehidupan yang layak dan sukses. Kenangan-kenangan bersama Kawi selalu teringat di benak Eling. Ia berniat untuk mencari Kawi, wanita tuna susila yang dulunya pernah memberinya dorongan dan semangat. Eling hanya ingin memberikan ucapan terimakasih pada Kawi yang dianggapnya telah membuat hidup Eling berubah. Merasa kesuksesannya berkat bantuan Kawi, sebagai rasa hormatnya ia memanggilnya dengan sebutan “Dewi Kawi”. Dibantu adiknya yang bernama Joko Waspodo (Podo), pencarian terhadap Dewi Kawi pun dilakukan. Namun, jejaknya tak dapat ditemukan.

Eling muda mengawali perkenalannya dengan Dewi Kawi pada sebuah tempat prostitusi, tempat Dewi Kawi bekerja setiap harinya. Pertemuan ini ternyata membuahkan rasa cinta di antara mereka. Namun, cinta mereka yang dijanjikan akan sampai pada pelaminan akhirnya tidak mampu tercapai karena kondisi perekonomian Eling yang kurang beruntung saat itu. Cinta mula-mula inilah yang mendorong Eling untuk dapat bertemu kembali dengan Dewi Kawi, selain untuk menunjukkan padanya bahwa Eling telah sukses, tetapi juga untuk mengucapkan terimakasih pada Dewi Kawi atas dorongannya sehingga Eling mampu menjadi orang yang sukses seperti sekarang ini. Namun, usahanya ini tidak membuahkan hasil. Sampai pada akhir ceritanya pun tidak digambarkan pertemuan keduanya. Dewi Kawi tersebut bukanlah Dewi Kawi yang dikenalnya lagi, karena Dewi Kawi telah ada dalam diri Eling, sekedar rekonstruksi dari sebuah ingatan Eling.

Novel ini menaruh kekuatannya pada rangkaian kata-kata yang mampu menghadirkan daya pikir dan imajinasi bagi pembaca. Penggunaan bahasa Jawa pun memberikan efek yang cukup merakyat untuk menyajikan kehidupan masyarakat sederhana dengan penghidupan mereka yang sederhana pula.

Kemiripan lain yang mendekatkan: Bu Kidul masih setengah buta huruf. Membaca sangat perlahan masih bisa, tapi tidak kalau menulis. Walau sedikit kurus, tetap terlihat bahwa paha dan pantatnya besar.
Podo sangat hati-hati.

“Apakah Bu Kidul mengenali saya?”
“Mboten”
“Kita pernah bertemu, tiga puluh tahun lalu, di rumah saya.”
“Lha nggih mboten eling.”’
Benar kalau tidak ingat.
“Saya akan memberi uang banyak buat Bu Kidul, kalau Bu Kidul mau menjawab semua pertanyaan.”
Bu Kidul tampak tenang. Tak ingat tahunnya, ia pernah menjadi anak nakal. Berhenti karena dinikahkan lagi di kampungnya. Mengenai tamu-tamu, kekasih, Bu Kidul menjelaskan. Pun mboten eling, Mas. Sudah tidak ingat. Semua sudah berlalu. Apakah ada yang serius mengajak kawin saat itu? Ya pasti ada, lebih dari satu. Tapi semuanya gombal.
(Dewi Kawi, 2008:36-37)

Kesederhanaan kata-kata yang disajikan dalam novel Dewi Kawi tersebut di atas memberikan kesan bahwa novel ini memang menceritakan mengenai sosok tokoh yang sederhana. Novel Dewi Kawi ini menceritakan sisi lain dari kehidupan manusia. Problematika kehidupan di racik secara apik sehingga cerita yang disuguhkan pun seakan-akan merupakan suatu realitas dalam kehidupan melalui penyajian rangkaian kata-kata yang sederhana namun mengena di dalam hati pembacanya. Perjuangan hidup yang keras hingga mengalami kesuksesan serta kisah pertemuan dengan Kawi hingga membuahkan kenangan manis dikemas secara rapi sehingga novel Dewi Kawi ini menarik untuk dibaca.

Kekuatan tokoh Eling juga disajikan dalam novel Dewi Kawi tersebut. Pada awal penceritaannya, Eling disebut sebagai “juragan gede” Eling oleh karena kekhasan karakternya, yaitu aneh dan sukses. Eling menjadi sukses oleh karena ketekunannya dalam menjalani bisnis dan kemampuannya untuk menghayati dan memahami kehidupannya sendiri dan kehidupan orang-orang di sekitarnya.

Masyarakat luas mengenal “juragan gede” Eling dengan dua kata: sukses, dan aneh. Rekan bisnisnya menilainya sebagai tokoh usahawan yang jenius dank eras kepala. Bagi karyawan-karyawati yang jumlahnya mencapai ratusan ribu, komentarnya sama, ditambah hatinya baik: kami bangga bekerja pada Juragan Eling. “Sebaik hati orangtua pada anak-anaknya, seakrab sahabat, itulah Juragan Eling.” (Dewi Kawi, 2008:5)

Penghadiran tokoh-tokoh dalam novel Dewi Kawi memperkuat alur cerita dalam novel tersebut yang terkesan lompat-lompat. Teknik penamaan yang disajikan oleh Arswendo dalam menggarap novel tersebut dapat menggambarkan karakter dan memberi kekuatan pada ceritanya.

Tokoh utama novel tersebut bernama Eling. Dalam bahasa Indonesia, eling berarti ingat. Dalam cerita tersebut, Eling digambarkan sebagai sosok tokoh yang selalu hidup dalam ingatan-ingatannya, segala sesuatu didasarkan pada ingatan.

Dengan kata lain, kunci dari semua ini ingatan. Eling, seperti namaku. Segala sesuatu berdasarkan ingatan. Sesuatu menjadi bernilai, menjadi bermakna karena kita mengingat kembali. Dalam mengingat kembali proses penciptaan kembali berlangsung. Baik secara sadar atau tidak–lebih banyak secara sadar. Dengan berlangsungnya waktu, jadilah rekonstruksi ingatan pada peristiwa sebagai peristiwa baru – sebagaimana yang kita kehendaki. (Dewi Kawi, 2008:49).

Tokoh yang kedua adalah Joko Wapodo (Podo) adalah adik kandung dari Eling. Podo merupakan sosok yang ekstra hati-hati dalam mengahadapi masalah. Sebagai adik yang merasakan kehormatan dan kejayaan berkat ajakan kakaknya, Eling, ia tetap menjadi pemuda kampung yang mau saja disuruh ini dan itu untuk sang kakak sebagai ungkapan terimakasihnya.

Podo berusaha sekeras mungkin. Sebagai adik yang selama ini merasakan puncak-puncak kejayaan usaha, kehormatan yang tak terbayangkan akan dialami. Semua yang dialami, dirasakan dengan penuh syukur berkat ajakan kakaknya. Ia akan tetap menjadi pemuda kampong seperti pemuda kampong yang lain, tanpa kakaknya. Ia, selama ini hanya disuruh ini, disusuh itu. Membuat ramuan, membuat alat, membungkus, mengirimkan. Semua bermula dari Eling, sang kakak. (Dewi Kawi, 2008:30).

Ada berbagai macam Kawi yang disajikan di dalam novel tersebut. Tetapi, Kawi yang dikehendaki oleh Eling adalah Kawi di masa mudanya dahulu yang tidak pernah menuntut dan selalu mendorong Eling untuk terus maju menuju sukses. Penggambaran sosok Kawi yang bekerja sebagai wanita tuna susila di suatu tempat prostitusi namun tetap dapat mengajak orang lain untuk hidup lebih baik lagi menunjukkan ketegaran seorang wanita dalam menghadapi permasalahan ekonominya.

Kawi dan Eling berada di samping rumah. Rumah kompleks pelacuran. Mungkin siang, atau sore – saat gerimis dan banyak awan susah dibedakan.
“Ling-ling, kalau kamu ma uterus-menerus tidur hanya dengan saya, ya kita harus kawin.”
“Itulah yang saya pikirkan. Saya perlu waktu untuk menyiapkan diri.”
“Tak perlu disiapkan. Kita memanggil naib. Cukup satu. Lalu kita dinikahkan dan saya punya alas an keluar dari kompleks ini.”
(Dewi Kawi, 2008:83).

Gerimis memang turun, kadang berhenti.
“Cinta itu aneh. Kalau ada hal-hal yang dilakukan dengan aneh, itu baru namanya cinta. Kalau biasa-biasa itu bukan cinta.”
“Contohnya sekarang ini, Wi. Harusnya kamu menerima tamu, dapat duit, tapi kemari.”
“Ya, dan saya tak menyesali.”
“Kalau kita piknik bersama, tapi tak tidur bersama, juga pertanda cinta, Wi?”
“Ya. Jatuh cinta kan tidak selalu tidur bersama. Kadang ngobrol begini, lihat-lihatan saja, sudah senang. Sebetulnya kamu cemburu sama yang begini ini, Ling. Kalau cemburu sama yang tidur dengan saya, ya percuma. Orangnya banyak, tapi tak pantas dicemburui.”
“Wi, kamu percaya saya bisa membeli hotel itu, bahkan pegunungan ini seluruhnya?”
“Kalau kamu punya duit, pasti bisa. Saya sudah bilang.”
….
“Berarti orang paling top adalah orang yang duitnya banyak sekali.”
“Ya. Dia Cuma kalah sama cinta.”
“Masa?”
“Yaaaa.”

(Dewi Kawi, 2008:99-100)

Formalisme Rusia, sebagaimana telah dibahas di awal tadi tidak menilai apa yang dikandung atau apa makna yang tersirat dalam sebuah novel, dalam hal ini novel Dewi Kawi. Yang ingin dinilai oleh Formalisme Rusia adalah bahasanya. Bahasa yang dipakai untuk menciptakan sebuah ceirta, gagasan, dan alur cerita dalam novel Dewi Kawi merupakan bahasa prosaik yang sederhana sehingga masyarakat pembaca mampu memahami kata-kata yang mengandung kekuatan membangun cerita. Falsafah-falsafah hidup yang ada disajikan dengan kesederhanaan pemilihan kata-kata yang dirangkai. Walau alurnya yang agak membingungkan, namun jika diikuti dengan ekstra hati-hati dan teliti, novel tersebut memiliki kekuatan bahasa yang dapat sampai pada pembaca.

Tidak berhenti sampai di sini saja. Studi Formalisme Rusia dalam novel Dewi Kawi dirasakan kering oleh karena pembahasannya yang hanya berpusat pada karya sastra itu sendiri sebagai suatu entitas yang otonom. Formalis berpendapat dengan studi ilmiah sastra yang diterapkan ini dapat meningkatkan kemampuan pembaca dalam membaca sastra sebagai teks yang dianggap artistik dan sastrawi. Padahal, asal usul terbentuknya karya sastra tersebut perlu pula diketahui. Bagaimanapun, sastrawan sebagai pengarang sebuah karya sastra memiliki pandangan-pandangan dalam hidupnya sebagai pribadi dan berusaha menuangkan pandangannya tersebut melalui tulisan dengan bahasa sebagai sarananya. Jadi, melalui perangkaian kata-kata dari seorang sastrawan dalam membentuk pandangan tersebut menjadikan sebuah karya sastra yang “enak” dibaca dan dihayati oleh pembaca.

Pembacaan karya sastra atau pengkajian karya sastra tidak melulu hanya terpaut pada sastra saja sebagai objek namun perlu diperhatikan pula hal-hal di luar dirinya (karya sastra) sehingga akan memperkaya proses pembacaan karya sastra tersebut. Salah satunya adalah dengan memperhatikan sastrawan sebagai pengarang atau pencipta karya sastra. Sastrawan tentunya melewati berbagai macam proses perenungan dalam diri dan pemikirannya sehingga dapat menciptakan kata-kata yang dirangkai sedemikian rupa. Perangkaian kata-kata ini adalah sebagai sarana atau cara pengarang dalam mengungkapkan pandangan-pandangan hidupnya.

7 Responses to Kekukuhan Bahasa DEWI KAWI

  1. Benar-benar ulasan dalam pandangan sastra. Saya melihat sebuah resensi buku yang tiada tara dalam pemaparan dalam sudut sastra

  2. Novel ini punyamukah?? mbok pinjem hehehehe,, eh tapi aku juga masih nyelesein de history of nearly everything dinkz…

    bedewe dek kamu ada buku tentang chil lit ga? nek ada mbok aku dipinjemi :D

  3. Kristina, klo novel ini djadikan skripsi menganalisisny menggunakan pendekatan apa, lalu kita analisis tokohny bs g, hehe,…jwb y,..pnting ini,…

  4. Mbak,..
    saya mau resensi buku ini di blog saya. Saya kopi yakk… Ntar saya buat referensinya. Oke mba?? thanks yaaahh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s