Boneka itu Berprofesi sebagai Guru

Guru pun dijadikan alat untuk politik pencitraan sang Pemimpin. Setelah membaca artikel dari kompas.com hari Rabu, 30 November 2011, diberitakan bahwa pada acara puncak peringatan hari guru nasional dan hari ulang tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang digelar di Sentul International Convention Center, Bogor, Jawa Barat. Pada acara tersebut, sekitar 4500 guru yang hadir di sana berlatih bersama agar bertepuk tangan sambil berdiri ketika Pak Presiden mengabulkan sebagian permohonan atau usulan PGRI.

Enggak banget, deh!! Continue reading

TERPANGGIL UNTUK MEMANGGIL

Di dalam benak saya, belum pernah terpikir untuk menjalani profesi sebagai seorang pengajar. Semenjak saya duduk di bangku SMA yang ada dalam benak saya adalah bercita-cita ingin menjadi seorang pencari sarang angin atau wartawan, persis seperti yang saya ceritakan berkali-kali dalam blog ini. Keinginan yang telah menjadi cita-cita saya sejak lama akhirnya memang terwujud. Saya pun mengalami menjadi buruh pencari berita di tengah persaingan para pencari berita lainnya yang berburu narasumber. Sulit dan penuh tekanan. Hampir dua bulan menjalaninya, saya tidak merasakan perkembangan yang signifikan malah semakin frustasi dan sangat tidak menikmati profesi tersebut. Sedih bukan kepalang saya mendapati diri seperti itu. Continue reading

BERHENTI SEJENAK DAN BERPIKIRLAH

“Dalam kediaman kita, introspeksi dan kontemplasi menjadi bagian yang tak terpisahkan. Diam dapat berarti dipaksa, disadari atau tanpa disadari. Diam dapat pula berarti berhenti.” (Mirza Jaka Suryana)

Penggalan kalimat di atas dituliskan oleh seorang wartawan yang juga peminat sastra dan politik serta hubungan internasional. Kalimat ini dituliskannya sebagai kata pengantar dalam pameran fotografi bertajuk “Jeda” oleh Fotografi Forum Lenteng. Konsep diam yang digambarkannya berawal dari bayangannya pada sebuah ‘saat’. Saat dimana waktu seperti berhenti sejenak dan tidak disadari hingga akhirnya berkata: Ayo, maju lagi! Kemudian, ia menyebutnya: Diam.
Continue reading

Telenovela Berjudul “Dibuang Sayang, Nazaruddin”

Drama telenovela mantan bendahara umum Partai Demokrat M. Nazaruddin mengundang kekesalan banyak pihak yang mengikuti ceritanya. Telenovela ini telah berhasil menguras emosi para penontonnya. Pasalnya, berbagai konflik terus bermunculan dan semakin melebar.

Cerita berawal dari penangkapan Sekretaris Menteri Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Wafid Muharam, Manajer Marketing PT Duta Graha Indah (PT DGI) M. El Idris, dan Manajer PT Anak Negeri Mindo Rosalina Manulang pada 21 April 2011 lalu, terkait dugaan korupsi pembangunan Wisma Atlet Sea Games XVII di Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatan. Saat itu, Mindo menyebutkan nama Nazaruddin sebagai atasannya yang juga memiliki peran dalam drama korupsi ini. Continue reading

NIKMAT KOTAK

Aku sudah terlalu lama hidup dalam kotak kenikmatan yang juga Kau rencanakan mewarnai kehidupanku. Aku tak menyesal hidup lama dalam kotak ini karena kotak ini memberi karakter femininku. Continue reading